headerphoto

FILSAFAT ANALITIK DLM PENDIDIKAN BAHASA

Minggu, 31 Maret 2019 22:38:53 - oleh : admin

Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, filsafat analitik telah membawa arah pendidikan bahasa dari pendekatan filsafat ke pendekatan penggunaan bahasa, tanpa meninggalkan kajian bahasa itu sendiri.  Kemajuan pendekatan filsafat analitik yang dikembangkan oleh Wittgenstein dengan teori atomisme logis membawa babak baru kajian bahasa. Pandangan Wittgenstein tentang bahasa yang menyatakan bahwa analisis suatu unsur (bahasa) merupakan analisis atom-atom logis yang pada kajian bahasa berikutnya disebut dengan konstituen-konstituen pembentuk  bahasa (kata, frasa, kalimat).

Sejalan dengan hal tersebut, perkembangan teori-teori bahasa di Eropa dan, Amerika, dan Inggris juga berkembang. Aliran filsafat analitik ini mempengaruhi aliran linguistik. Aliran filsafat ini sangat terasa mempengaruhi linguistik moderen yang dipelopori oleh Saussure, Boas, Saphir, dan Bloomfield. Filsafat analitik ini lebih kental lagi mempengaruhi aliran linguistik fase kedua yang dimotori oleh Malinowsky yang meneliti bahasa-bahasa primitif di Eropa (1923), Trubetzkoy (1939) yang dengan aliran Prahanya mengkaji fonetik dan fonologi. Sementara itu, Weinreich (1953) mulai melebarkan kajian linguistik yang tidak lagi menelaah struktur bahasa (fonetik, fonologi, sintaksis), tetapi ke arah sosiolinguistik (kontak bahasa), yang kemudian diperkuat oleh teori fungsi bahasa oleh Roman Jakobson (1956). Teori tentang kajian semantik leksikal dikembangkan ole Eugene Nida. Ia sebenarnya seorang linguist yang memfokuskan diri pada terjemahan Bible. Dengan ilmunya, ia mengembangkan berbagai kajian terjemahan, termasuk kajian semantik leksikal (componential analysis) pada tahun 1960-an.

Perkembangan kajian  linguistik fase ketiga lebih menekankan pada kajian bahasa yang lebih variatif, mulai dari tata bahasa hingga penggunaan bahasa. Sebut saja (Halliday (1961) dengan bukunya Categories of the theory of grammar,  Greenberg (1963) dengan Universals of Language,  dan Chomsky (1965) menulis buku  Aspects of the Theory of Syntax. Perkembangan selanjutnya. Pada perkembangan selanjutnya, tokoh-tokoh seperti Labov, Halliday, dan Chomsky mengarahkan kajiannnya pada pengguaan bahasa (pramatik dan sosiolinguistik).

Para ahli linguistik di Inggris (terutama di Oxford) sangat dipengaruhi oleh aliran filsafat analitik, terutama oleh Wittgenstein II. Mereka sangat mendukung dengan teori-teori filsafat aliran ini yang mengatakan bahwa kajian filsafat haruslah dimulai dari kajian bahasa biasa (bahasa yang digunakan sehari-hari) bukan bahasa logika, karena bahasa sehari-hari (ordinary language)-lah yang mencerminkan bahasa yang sebenarya. Bahasa tidak sekedar mencerminkan fakta-fakta tetapi ia digunakan untuk tujuan tertentu.  John Langshaw Austin (1911-1960) merupakan salah satu tokoh linguistik yang menaruh perhatian besar terhadap penggunaan bahasa biasa. Ia dikenal sebagai Bapak kajian tindak tutur. Karya monumentalnya adalah How to do thing with word (1955) yang membahas makna dan maksud tuturan dalam suatu tindak bahasa. Buku ini dikenal sebagai buku utama kajian tindak tutur (speech acts).  Tokoh lain yang juga mengembangkan teori tindak tutur adalah John Roger Searle dengan teori tindak tutur yang dibahas dalam bukunya Speech Acts: An Essay in Philosophy of Language (1969), Expression and Meaning : The Study in the Theory of Speech Acts (1979), dan Mind, Language, and Society (1998).

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Culture" Lainnya