headerphoto

MENGENAL FILSAFAT ANALITIK

Minggu, 31 Maret 2019 22:37:24 - oleh : admin

Menurut Bakker (dalam Kaelan, 2004: 133), Salah satu penyebab lahirnya filsafat analitik adalah adanya kekacauan bahasa filsafat. Banyak teori dan konsep filsafat yang sajikan dengan bahasa yang membingungkan, bahkan semakin jauh dari bahasa sehari-hari. Menurut Kaelan (1998:84) Filsafat analitis merupakan metode yang khas untuk menjelaskaan, menguraikan, dan menguji kebenaran ungkapan-ungkapan filosofis. Upaya menguraikan dan menguji kebenaran itu, menurut (Alwasilah, 2008: 24) hanya mungkin dilakukan lewat bahasa, karena bahasa memiliki fungsi kognitif, yaitu dengan bahasalah manusia menjelaskan proposisi-proposisi yang dipikirkannya, apakah benar atau salah, sehingga ia menerima atau menolaknya secara rasional.

Tokoh tokoh aliran filsafat analitik yang berperan dan berpengaruh besar dalam mengukuhkan aliran ini antara lain George Edward Moore (1873-1958), Bertrand Russell (1872-1972), dan Ludwig Wittgenstein (1899 – 1951), serta John Langshaw Austin (1911 – 1960).

Atomisme Logis Russell

Atomisme logis adalah suatu faham yang berpandangan bahwa bahasa dapat dipecah menjadi proposisi atomik atau proposisi elementer melalui teknik analisis logis atau analisis bahasa. Setiap proposisi yang ada mengacu pada bagian terkecil dari realitas. Berdasarkan pandangan yang demikian, maka kaum atomisme logis bermaksud menunjukkan adanya hubungan yang mutlak antara bahasa dengan realitas.

Atomisme merupakan salah satu aliran filsafat yang telah lama berkembang sebelum abad moderen. Di Eropa, aliran atomisme telah mulai muncul dan diperkenalkan oleh Leukippos dan Democritus sebagai muridnya pada abad ke-5 SM. Para penganut atomisme ini mengajukan teori bahwa dunia alam terdiri atas dua komponen yang tidak terpisahkan, saling berlawanan dan bersifat atomis yang tidak dapat dibagi dan diisi oleh komponen lain.

Aliran atomisme logis mulai dikenal pada tahun 1918 melalui tulisan-tulisan Bertrand Rusell. Kemudian mencapai puncaknya dalam pemikiran Wittgenstein melalui karyanya yang berjudul Tractatus Logico Philosophicus (1922) Umumnya para peminat studi pemikiran mengenal konsep atomisme logis ini melalui dua sumber kepustakaan, yaitu hasil karya Bertrand Russell yang berjudul Logic and knowledge  (1901-1950) dan Tractatus Logico Philosophicus (1922) yang ditulis Ludwig Wittgenstein pada saat berkecamuknya perang dunia pertama.

Alasan Russell (2010 :3) menggunakan istilah atomisme logis (logical atomism) adalah karena atom-atom yang muncul dari residu suatu analisis merupakan atomisme logis, bukan atom-atom secara fisik. Atomisme logis tersebut oleh Russell disebut dengan “partikular”  seperti warna suara, unsur predikat, satuan relasional dan sebagainya.  Selain itu, Russell mengemukakan istilah corak logis (logical types).  Menurutnya, dua buah benda dianggap memiliki corak logis jika kedua benda itu memiliki corak yang sama (Russelle, 2010:137). Sebagai contoh, mawar dan melati memiliki corak logis yang sama karena memiliki corak yang sama yaitu corak bunga.

Meaning is Picture

Teori tentang makna adalah gambar “Meaning is Picture “ merupakan salah satu teori tentang makna yang dikembangkan oleh Wittgenstein dalam bukunya  Tractus Logico Philosophicus” (1922). Menurutnya, dunia ini dipenuhi oleh fakta-fakta, yang setiap fakta itu berhubungan dengan makna. Gambar sebagai fenomena di alam memiliki gambaran realitas. Dengan demikian, sebenarnya dunia ini dipenuhi dengan fakta-fakta, bukan oleh sesuatu.

Menurut Hidayat (2006: 37) Wittgenstein  beranggapan bahwa semua tuturan manusia mengandung satu atau lebih proposisi elementer, yaitu proposisi yang tidak dapat dianalisis lagi (yang oleh Russell disebut dengan atomisme logis). Dikatakan lebih lanjut, proposisi elementer tersebut merujuk pada suatu keadaan (state of affairs) dalam realitasnya. Struktur (kalimat) dalam suatu proposisi memiliki relasi dengan struktur realitasnya, seperti gambar buah apel dengan buah apel itu sendiri. Baik teori atomisme logis yang dikemukakan oleh Russell maupun teori gambar  Wittgenstein ini sebenarnya merupakan dasar-dasar pengembangan ilmu semantik yang kemudian dikembangkan oleh Eugene Nida (1911-2011) menjadi kajian semantik leksikal, dan pragmatik yang kemudian dikembangkan oleh tokoh-tokoh pragmatik seperti Searle (1932), dan Austin (1911 – 1960)

Meaning is Use

Meaning is use merupakan teori yang dikembangkan oleh Wittgenstein setelah ia kembali dari Austria (negara asalnya). Sekembalinya ia mengajar di Cambridge (1929), ia mendapatkan fakta bahwa bahasa tidak hanya menggambarkan fakta-fakta tetapi juga menggambarkan maksud penutur dan bagaimana bahasa itu digunakan. Bahkan ia menentang sendiri teori meaning is picture yang dikembangkannya. Ia cenderung menganggap bahasa itu memiliki beragam fungsi. Setiap situasi yang berbeda, fungsi bahasa yang digunakan juga berbeda yang oleh Wittgenstein disebut dengan language games. Dalam bukunya Philosophical Investigations (1986), Wittgenstein menyampaikan bahwa bahasa merupakan suatu permainan, seperti halnya permainan sepakbola dan permainan lainnya yang memiliki aturan yang khas.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Linguistique" Lainnya