headerphoto

Pembelajaran Bhs Prancis dlm Perspektif Pembentukan Warga Dunia

Minggu, 31 Maret 2019 22:33:16 - oleh : admin

Pembelajaran bahasa Prancis dengan pendekatan aksional dipengaruhi oleh filsafat analitik. Para ahli linguistik di Inggris (terutama di Oxford) sangat dipengaruhi oleh aliran filsafat analitik, terutama oleh Wittgenstein II. Mereka sangat mendukung dengan teori-teori filsafat aliran ini yang mengatakan bahwa kajian filsafat haruslah dimulai dari kajian bahasa biasa (bahasa yang digunakan sehari-hari) bukan bahasa logika, karena bahasa sehari-hari (ordinary language)-lah yang mencerminkan bahasa yang sebenarya. Bahasa tidak sekedar mencerminkan fakta-fakta tetapi ia digunakan untuk tujuan tertentu.  John Langshaw Austin (1911-1960) merupakan salah satu tokoh linguistik yang menaruh perhatian besar terhadap penggunaan bahasa biasa. Ia dikenal sebagai Bapak kajian tindak tutur. Karya monumentalnya adalah How to do thing with word (1955) yang membahas makna dan maksud tuturan dalam suatu tindak bahasa. Buku ini dikenal sebagai buku utama kajian tindak tutur (speech acts).  Tokoh lain yang juga mengembangkan teori tindak tutur adalah John Roger Searle dengan teori tindak tutur yang dibahas dalam bukunya Speech Acts: An Essay in Philosophy of Language (1969), Expression and Meaning : The Study in the Theory of Speech Acts (1979), dan Mind, Language, and Society (1998).

Ciri utama pendidikan bahasa Prancis pada pendekatan aksional ini adalah pembelajaran bahasa yang didasarkan pada empat hal, yaitu (a) savoir atau pengetahuan deklaratif seperti berbagai jenis prosesi pernikahan, masyarakat sosial tempat kita tumbuh, (b) savoir-faire atau ketrampilan berbahasa dan tahu bagaimana menggunakannya, seperti bahasa saat berpidato, berdiskusi, berdebat, bersastra, (c) savoir-être atau kompetensi eksistensi diri seperti pernikahan di mana orang berciuman, ada budaya yang tidak mencium atau memeluk, ada yang berjabat tangan, ada yang tidak, dan sebagainya, dan (d) savoir-apprendre kebiasaan untuk belajar seperti tema tentang berbicara dan cara menyesuaikan diri pada berbagai konteks lingkungan dan budaya. Ciri-ciri pendekatan aksional tersebut sesuai dengan pendidikan dalam perspektif pembentukan warga dunia dengan kompetensi antarbudaya.

Dilihat dari isi (content) bahan ajarnya, buku-buku pelajaran bahasa Prancis yang digunakan saat ini telah disesuaikan dengan pendidikan dalam perspektif pembentukan warga dunia  dengan kompetensi antarbudaya. Sebagai contoh, dalam buku Echo 1 yang diterbitkan oleh CLE International pada tahun 2008 ini ditujukan untuk remaja (tahun pertama di perguruan tinggi/ tingkat CECR A1). Buku yang terdiri atas empat unit itu mengandung pendidikan interkultural yang tercermin dalam teks-teks civilization. Pada unite 1 yang diberi tema Apprendre ensemble « belajar bersama » dibahas kompetensi interkultural yaitu (1) l’espace francophone « seputar frankophoni », (2) Première approche de la société française « pendekatan awal mengenal masyarakat Prancis (3) première approche de l’espace de la France « pendekatan awal mengenal lingkungan Prancis, (4) rythme de l’année et de la vie en France « Ritme kehidupan di Prancis. Pada unit 2 dikemukakan tentang Survivre en français yaitu bagaimana hidup di Prancis seperti terkait dengan transportasi (les transports), gaya makan (les habitudes alimentaires), iklim (le climat), dan sebagainya. Sementara itu pada unit 3, pembelajar dibawa pada pembelajaran tentang bagaimana kontak sosial terjadi pada masyarakat Prancis, seperti pada keluarga (la famille), bagaimana kontak sosial dalam masyarakat (savoir-vivre en France), dan cara menghadapi situasi penting di Prancis (situation urgent). Pada unit 4 dibahas tentang pendidikan (l’enseignement en France). Tema-tema dan sub tema yang disajikan pada buku Echo 1 ini diarahkan agar peserta didik memiliki kompetensi antar budaya baik pada lingkup pengetahuan (knowledge) tentang kesadaran budaya sendiri ketika belajar bahasa Prancis, kesadaran sosiolinguistik dalam komunikasi menggunakan bahasa Prancis, dan pemahaman akan isu-isu global tentang lingkungan hidup, tentang transportasi, sistem pendidikan, sistem politik, dan sebagainya. Selain itu, pendidikan dengan buku ini juga diarahkan pada keterampilan (skill)

Data di atas merupakan contoh materi pembelajarn yang ada di buku Echo 2. Buku Echo 2 halaman 31 membahas makna warna dalam kehidupan masyarakat Prancis. Setiap masyarakat memakna warna secara beragam. Sebagai contoh, warna merah bagi masyarakat Indonesia bermakna berani. Bagi masyarakat Prancis, warna merah dapat bermakna berani, ambisi, aksi, dan sebagainya. Pada bagian latihan nomor 2, “lisez la liste des objets. Comparer avec les realites de votre pays » dimaksudkan agar peserta didik dapat mengetahui makna simbol warna paba berbagai masyarakat, dapat membandingkan dengan masyarakat di lingkungan mereka, dan menghargai perbedaan yang ada.

Data halaman 36 buku Echo 2 dijelaskan sifat-sifat fisik dan psikologis dan social orang Amerika dalam pandangan orang Prancis. Pada bagian lain, peserta didik diminta untuk membandingkannya dengan orang Indonesia atau orang dari etnis lain. Mereka harus menghargai perbedaan tersebut, dan mengungkapkan secara kritis namun tetap santun.

Demikian pula pada buku pelajaran Version Originale (VO1). Buku yang di terbitkan oleh Maison de Langues tahun 2013 ini dirancang untuk pembelajar pada tingkat CECR A1 (pemula). Buku ini didesain dengan model penyajian (a) penugasan (tache), tipologi teks (typologie textuelle), komunikasi (communication), sumber gramatikal (resource grammatical), sumber leksikal (ressource lexical), fonetik (phonetique), dan kompetensi interkultural (competence interculturelle). Aspek penugasan sampai fonetik terkait dengan kompetensi gramatikal dan kompetensi sosiolinguistik dan pragmatik. Hal kompetensi interkultural dimaksudkan agar peserta didik memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap positif  pendidikan bahasa Prancis dalam perspektif pembentukan warga dunia  dengan kompetensi antarbudaya. Materi yang diajarkan dalam buku tersebut meliputi pengetahuan tentang negara, budaya, dan masyarakat Prancis dan perbandingan dengan negara dan budaya peserta didik, keterampilan (skill) berpikir kritis, analitis dan belajar mendengarkan dalam konteks budaya Prancis dan budaya Indonesia, sikap (attitude) seperti saling menghormati antar penutur dalam komunikasi yang memiliki latar belakang sosial budaya berbeda, sikap terbuka terhaddap perubahan, meningkatkan rasa ingin tahu, dan meningkatkan sikap ingin menemukan (discovery).

Data pada buku Version Original halaman 77 dan halaman 90 di atas contoh bahan ajar yang disusun dalam upaya kompetensi intercultural yaitu ritme kehidupan orang Prancis yang terkenal pekerja keras dengan slogam metro “berangkat dan pulang kerja” boulot “bekerja” dan dodo “ tidur/istirahat”. Pada halam 90, materi ajar yang dimunculkan adalah terkait makanan dan barang-barang yang diproduksi atau digunakan oleh orang Prancis. Mereka bangga dengan makanan dan produk-produk buatan mereka, seperti makanan, mode, dan automotif (terutama mobil). Pada bagian itu peserta didik diminta menceritakan kebanggaan mereka terhadap barang-barang (makanan atau produk lainnya) dari Negara peserta didik (Indonesia). Bahan ajar-bahan ajar tersebut mengajarkan peserta didik agar Hal ini mengajarkan peserta didik berfikir kritis terhadap fenomena ekspor dan impor barang, jasa, dan budaya. Selain itu, peserta didik diajak untuk memiliki kesadaran untuk memiliki kesadaran akan budaya sendiri (cultural self-awareness),  kesadaran sosiolinguistik (sociolinguistic awareness) yaitu menggunakan bahasa yang sesuai dengan konteks situasi, dan memahami isu dan tren global (grasp of global issues and trends), saling menghormati, sikap terbuka, yaitu menghindari kritik terhadap budaya lain, rasa ingin tahu, dan memiliki jiwa penemuan (discovery), tidak hanya sebagai pengguna (user).

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Culture" Lainnya