headerphoto

CEFR (CECR) dalam Pengajaran Bhs Prancis

Minggu, 31 Maret 2019 22:46:47 - oleh : admin

Dalam pendidikan bahasa Peracis, filsafat analitik menjadi dasar filosofi pembentukan Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). CEFR adalah kerangka Kerja yang disusun oleh Uni Eropa yang memberikan dasar umum untuk penjabaran silabus bahasa, pedoman kurikulum, ujian, buku pelajaran, dan lain-lain di seluruh Eropa. Di dalam CEFR, dijelaskan secara komprehensif tindakan apa yang dipelajari oleh pelajar bahasa, bagaimana melakukannya, bagaimana menggunakan bahasa untuk komunikasi dan pengetahuan dan keterampilan apa yang harus mereka kembangkan sehingga dapat bertindak secara efektif. Deskripsi tersebut juga mencakup konteks budaya di mana bahasa diatur. Kerangka ini juga mendefinisikan tingkat kemahiran yang memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan yang akan diukur pada setiap tahap pembelajaran dan sepanjang mereka belajar (CEFR, 2001 : 1). Dalam kerangka kerja (CEFR) tersebut, pendidikan bahasa diarahkan pada dua kompetensi dasar (CEFR, 2001 : 101-127) yaitu (1) kompetensi umum (general competence) yang meliputi (a) pengetahuan deklaratif (declarative knowledge) atau savoir, (b) ketrampilan berbahasa dan tahu bagaimana menggunakannya (skills and know-how) atau savoir-faire, (c) kompetensi eksistensi diri (existential’ competence) atau savoir-être (d) dan kebiasaan untuk belajar (ability to learn) atau savoir-apprendre, dan (2) kompetensi komunikaif (communicative language competences) yang meliputi (a) kompetensi linguistik (linguistic competences) dan (b) kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence). Kompetensi-kompetensi yang dikembangkan dalam pendidikan bahasa asing (termasuk bahasa Prrancis) di Eropa selaras dengan aliran filsafat analitik yang menekankan bahasa biasa (ordinary language) dalam analisis bahasa dan penggunaan bahasa. Berdasarkan kompetensi-kompetensi yang harus di kuasai pembelajar bahasa Perancis di atas, jelaslah bahwa pendidikan bahasa Perancis menekankan pada kompetensi yang integratif yaitu aspek kebahasaan dan aspek penggunaan bahasa. Kedua kompetensi itu dikembangkan dalam semua tingkatan (level) penguasaan bahasa Perancis, mulai dari tingkat dasar (A1) sampai tingkat mahir (C2). Secara umum, tingkat penguasaan bahasa Perancis distratifikasikan atas tiga tingkatan yaitu (1) tingkat penutur dasar (basic speaker) yaitu mereka yang berada pada tingkat A1 (beginner) dan A2 (elementry), (2) tingkat penutur independen (independant speaker) yaitu para pembelajar pada tingkat B1 (intermediate) dan B2 (upper intermediate), serta (3) tingkat penutur mahir (proficiency speaker) yaitu pembelajar yang telah mencapai tingkat C1 (advanced) dan C2 (expert). Secara lebih spesifik, keterampilan penggunaan bahasa Perancis pada setiap jenjang (A1 sampai C2) dapat dilihat seperti pada tabel berikut. Pendekatan Aksional (Perspective Actionnelle) Sebagai implementasi dari CEFR, pendidikan (pengajaran) bahasa Prancis didasarkan pada perspektif aksional. Pada pendekatan aksional ini, Pengguna bahasa dianggap sebagai aktor sosial yang akan masuk ke dalam kehidupan sosial yang lebih luas (pribadi, pendidikan, profesional, publik) dan pembelajar dihadapkan pada sejumlah konteks penggunaan bahasa. Girardet (2011 :), seorang penulis buku pelajaran bahasa Perancis dari CLE International dalam sebuah konferensi bahasa Prancis di Sao Paolo mengatakan bahwa tugas (tache) dimaksud merupakan tugas yang harus dilakukan oleh pembelajar sebagai aktor (pelaku tindakan dalam pembelajaran) sesuai dengan masalah yang diberikan dan dipecahkan, kewajian yang harus ditunaikan, dan tujuan yang telah ditetapkan dalam pembelajaran. Perspektif aksional memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan pendekatan komunikatif. Pertama, latihan-latin dalam pembelajaran pada pendekatan komunikatif lebih bersifat simultan yaitu pembelajar berperilaku seolah-olah sebagai pelaku, dan seolah-olah sebagai bagian dari anggota masyarakat, sementara dalam perspektif aksional, pembelajar berperan sebagai pelaku tindakan atau tokoh yang sebenarnya, dan kelas sebagai masyarakat sosial. Kedua, dalam pendekatan komunikatif, tugas-tugas kebahasaan merupakan tugas komunikasi. Sementara itu, dalam perspektif aksional, tugas dalam pembelajaran tidak sebatas tugas komunikatif, tetapi juga tugas (tindakan/aksi) kehidupan bermasyarakat. Ketiga, dalam pendekatan komunikatif, komunikasi diarahkan pada tindak bahasa penutur dan mitra tutur, sementara pada perspektif aksional, tindak tutur diarahkan pada komunikasi dalam tindak sosial (l’action social) antar penutur dan mitra tutur. Saat ini, buku-buku pelajaran bahasa Perancis telah diselaraskan dengan CEFR dan perspektif aksional. Sebagai contoh, buku Echo, buku yang diterbitkan oleh CLE International telah disesuaikan dengan standar pembelajaran Eropa (CEFR). Buku Echo 1, sampai dengan Unite 3, merupakan bahan pembelajaran untuk A1. Buku Echo 2, sampai unite 2 merupakan bahan ajar untuk A2, dan Buku Echo 3 digunakan untuk pembelajar pada tingkat B1. Dilihat dari konten (isi) pembelajarannya, buku Echo telah didesain sesuai dengan konten CEFR dan pendekatan aksional. Isi buku ini memuat empat kompetensi utama yaitu (a) savoir atau pengetahuan deklaratif seperti berbagai jenis prosesi pernikahan, masyarakat sosial tempat kita tumbuh, (b) savoir-faire atau ketrampilan berbahasa dan tahu bagaimana menggunakannya, seperti berpidato dan berdiskusi, (c) savoir-être atau kompetensi eksistensi diri seperti pernikahan di mana orang berciuman, ada budaya yang tidak mencium atau memeluk, ada yang berjabat tangan, ada yang tidak, dan sebagainya, dan (d) savoir-apprendre kebiasaan untuk belajar seperti tema tentang berbicara dan cara menyesuaikan diri pada berbagai konteks. Kelas didesain sebagai masyarakat sosial, sementara pembelajar dan pengajar merupakan masyarakat sosial yang saling berinteraksi menggunakan bahasa Prancis untuk menyampaikan pesan, gagasan, ide, pengalaman, dan tempat bersama-sama membangun suatu proyek (Girardet et Pecheur, 2008: 3)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "FLE" Lainnya