ALIRAN-ALIRAN LINGUISTIK

ALIRAN TRADISIONAL 

Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa pada zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang, yaitu dari lebih kurang abad ke-5 SM. Sampai abad ke-2 M. Jadi kurang lebih sekitar 600 tahun. Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan pada waktu itu adalah (1) pertentangan antara fisis dan nomos, dan (2) pertentangan antara analogi dan anomali (Chaer, 2003:333). Fisis (alami) mempunyai prinsip abadi dan tidak dapat diubah dan ditolak, sedangkan nomos (konvensi) beranggapan bahwa bahasa bersifat konvensi, makna dari sebuah kata diperoleh dari hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Keteraturan bahasa itu tampak, misalnya dalam bahasa Inggris : Boy-Boys. Sebaliknya, kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Ini dibuktikan dengan kata dalam bahasa Inggris child menjadi children, bukannya childs (Chaer, 2003:334).

Kaum Stoik

Yaitu kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke-4 SM. Dalam studi bahasa kaum stoik, terdapat kajian yang terkenal, antara lain karena:

  1. membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa,
  2. menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa,
  3. membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa, yaitu : 1) tanda, simbol, sign, atau semainon, 2) makna, apa yang disebut smainomen/lekton, 3) hal-hal di luar bahasa yakni benda-benda atau situasi,
  4. membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna,
  5. membagi jenis kata menjadi empat yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah, dan
  6. membedakan kata kerja komplek dan kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.

LINGUISTIK ZAMAN ROMAWI.

Zaman Romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116-27 SM) dengan karyanya, De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.
Varro dalam bukunya yang berjudul De Lingua Latina masih membahas masalah analogi dan anomali seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, sintaksis.

Tata bahasa Priscia dianggap sangat penting karena merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya dan teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Segi yang dibicarakan dari buku itu adalah: (1) fonologi dibicarakan mengenai huruf/tulisan yang disebut literae/bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan, (2) morfologi dibicarakan mengenai dictio/atau kata, (3) sintaksis dibicarakan mengenai oratio yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai. Buku Institutiones Grammaticae ini telah menjadi dasar tata bahasa Latin dan filsafat zaman pertengahan (Chaer, 2003:341).

LINGUISTIK ZAMAN PERTENGAHAN.

Studi bahasa pada zaman pertengahan mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik. Pada zaman pertengahan ini, yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain adalah peranan Kaum Modistae, Tata Bahasa Spekulativa, dan Petrus Hispanus (Chaer, 2003: 341).

Kaum Modistae menerima analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat reguler dan universal. Mereka memperhatikan secara penuh akan semantik sebagai penyebutan definisi bentuk-bentuk bahasa, dan mencari sumber makna, maka dengan demikian berkembanglah bidang etimologi pada zaman itu. Tata Bahasa Spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin ke dalam filsafat skolastik. Menurut Tata Bahasa Spekulativa, kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk.

ZAMAN RENAISANS.

Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang menonjol yang perlu dicatat. 1) Sarjana-sarjana pada waktu itu menguasai bahasa Latin, Ibrani, dan Arab, 2) Bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasaan, penyusunan tata bahasa, dan perbandingan.

ALIRAN STRUKTURAL

Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dianggap sebagai bapak linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915. Dalam kaiannya denga bahasa Saussure  menegaskan bahwa bahasa sebenarnya dapat dikaji dengan teori yang mandiri yang disebutnya “Linguistique untuk mengimbangi kajian bahasa melalui disiplin psikologi, filologi, dan filsafat.

Strukturalisme merupakan arus penting dri pemikiran Eropa tahun 1960-an. Perhatian utma ditujukan pada penelitian berkaitan dengan cara dan mekanisme berbahasa yang mencakup tutur kata dan bunyi dalam kaitannya dengan sejarah, institusi sosial, dan konteks di mana sebuah bahasa berkambang.  Aliran Strukturalis atau Strukturalisme merupakan suatu pendekatan ilmu humanis yang mencoba untuk menganalisis bidang tertentu (misalnya, mitologi) sebagai sistem kompleks yang saling berhubungan. Ferdinand de Saussure (1857-1913)  dianggap sebagai salah satu tokoh penggagas aliran ini, meskipun masih banyak intelektual Perancis lainnya yang dianggap memberi pengaruh lebih luas. Aliran ini kemudian diterapkan pula pada bidang lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, psikoanalisis , teori sastra dan arsitektur. Ini menjadikan strukturalisme tidak hanya sebagai sebuah metode, tetapi juga sebuah gerakan intelektual di Perancis tahun 1960-an.

Menurut Alison Assiter, ada empat ide umum mengenai strukturalisme sebagai bentuk ‘kecenderungan intelektual’. Pertama, struktur menentukan posisi setiap elemen dari keseluruhan. Kedua, kaum strukturalis percaya bahwa setiap sistem memiliki struktur. Ketiga, kaum strukturalis tertarik pada ‘struktural’ hukum yang berhubungan dengan hidup berdampingan bukan perubahan. Dan terakhir struktur merupakan ‘hal nyata’ yang terletak di bawah permukaan atau memiliki makna tersirat.

Strukturalisme memiliki berbagai tingkat pengaruh dalam ilmu sosial, dan pengaruh sangat kuat dapat terlihat di bidang sosiologi. Aliran Strukturalis menyatakan bahwa budaya manusia harus dipahami sebagai sistem tanda (system of signs). Robert Scholes mendefinisikannya sebagai reaksi terhadap keterasingan modernis dan keputusasaan. Para kaum strukturalis berusaha mengembangkan semiologi (sistem tanda). Ferdinand de Saussure adalah penggagas strukturalisme abad ke-20, dan bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Course in General Linguistics, yang ditulis oleh rekan-rekan Saussure setelah kematiannya dan berdasarkan catatan para muridnya. Saussure tidak memfokuskan diri pada penggunaan bahasa (parole, atau ucapan), melainkan pada sistem yang mendasari bahasa (langue). Teori ini lalu muncul dan disebut semiologi. Namun, penemuan sistem ini harus terlebih dahulu melalui serangkaian pemeriksaan parole (ucapan).

Dengan demikian, Linguistik Struktural sebenarnya bentuk awal dari linguistik korpus (kuantifikasi). Pendekatan ini berfokus pada  bagaimana sesungguhnya kita dapat mempelajari unsur-unsur bahasa yang terkait satu sama lain  ’sinkronis’ daripada ‘diakronis’. Akhirnya, dia menegaskan bahwa tanda-tanda linguistik terdiri atas dua bagian, sebuah penanda (pola suara dari sebuah kata, baik dalam proyeksi mental – seperti pada saat kita membaca puisi untuk diri kita sendiri dalam hati – atau sebenarnya, realisasi fisik sebagai bagian dari tindak tutur) dan signified (konsep atau arti kata). Ini sangat berbeda dari pendekatan sebelumnya yang berfokus pada hubungan antara kata dan hal-hal di dunia dengan referensinya.

Ciri-ciri Aliran Struktural

  1. Berlandaskan pada paham behaviourisme. Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response).
  2. Bahasa berupa ujaran. Ciri ini menunjukkan bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa. Dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral.
  3. Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional.
  4. Bahasa merupakan kebiasaan (habit).
  5. Kegramatikalan berdasarkan keumuman.
  6. Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi.
  7. Analisis dimulai dari bidang morfologi.
  8. Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik
  9. Analisis bahasa secara deskriptif.
  10. Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.

Keunggulan Aliran Struktural

  1. Aliran ini sukses membedakan konsep grafem dan fonem.
  2. Metode drill and practicemembentuk keterampilan berbahasa berdasarkan kebiasaan
  3. Kriteria kegramatikalan berdasarkan keumuman sehingga mudah diterima masyrakat awam.
  4. Level kegramatikalan mulai rapi mulai dari morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.
  5. Berpijak pada fakta, tidak mereka-reka data.

Kelemahan Aliran Struktural

  1. Bidang morfologi dan sintaksis dipisahkan secara tegas.
  2. Metode drill and practice sangat memerlukan ketekunan, kesabaran, dan dapat menjemukan pembelajar.
  3. Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap berlangsung secara fisis dan mekanis padahal manusia bukan mesin.
  4. Kegramatikalan berdasarkan kriteria keumuman , suatu kaidah yang salah pun bisa benar jika dianggap umum.
  5. Faktor historis sama sekali tidak diperhitungkan dalam analisis bahasa.
  6. Objek kajian terbatas sampai level kalimat, tidak menyentuh aspek komunikatif.

Pernyataan Pokok Aliran Strukturalis

Asumsi Saussure yang terkenal dan merupakan dasar kajiannya adalah bahwa bahasa merupakan realitas sosial. Sebagai realisasi asumsi tersebut, kajian pertama yang dilakukan Saussure adalah kajian terhadap struktur bahasa. Hal ini dilakukan karena Saussure menganggap bahwa bahasa sebagai satu struktur sehingga pendekatannya sering disebut Structural Linguistics. Kedua, Saussure mengembangkan pikirannya ke dalam enam dikotomi tentang bahasa, yaitu (a) dikotomi sinkronik dan diakronik, (b) dikotomi bentuk (form) dan substansi, (c) dikotomi Signifian dan signifie, (d) dikotomi langue dan Parole, (e) dikotomi individu dan sosial, dan (f) hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.

Sinkronik

Kata sinkronis berasal dari bahasa Yunani syn yang berarti dengan, dan khronos yang berarti waktu, masa. Dengan demikian, linguistik sinkronis mempelajari bahasa sezaman. Fakta dan data bahasa adalah rekaman yang diujarkan oleh pembicara, atau bersifat horisontal. Linguistik sinkronis adalah mempelajari bahasa pada suatu kurun waktu tertentu, misalnya mempelajari bahasa Indonesia di masa reformasi saja.

Saussure mengemukakan bahwa kajian bahasa secara sinkronis amat perlu, meskipun beliau banyak berkecimpung dalam kajian diakronis. Baginya, kajian sinkronis bahasa mengandung kesistematisan tinggi, sedangkan kajian diakronis tidak. Bagi penggunanya, sejarah bahasa tidak memberikan apa-apa kepada pengguna bahasa mengenai cara penggunaan bahasa. Ada yang perlu bagi pengguna bahasa, yaitu état de langue atau suatu keadaan bahasa. Suatu keadaan bahasa terbebas dari dimensi waktu dalam bahasa yang justru memiliki watak kesistematisan.

Kajian sinkronis justru lebih serius dan sulit. Sistem keadaan bahasa ‘sinkronik’ seperti sistem permainan catur. Setiap buah catur (setara dengan suatu unit bahasa) memiliki tempat tersendiri dan memiliki keterkaitan tertentu dengan buah catur lain, dan kekuatan serta pola gerak/jalan tersendiri. Suatu  keadaan bahasa (État de langue) adalah jaringan keterkaitan yang menentukan nilai suatu elemen benar-benar tergantung, langsung atau tak langsung pada nilai elemen-elemen yang lain.

Diakronik

Kata diakronis berasal dari bahasa Yunani, dia yang berarti melalui, dan khronos yang berarti waktu, masa. Dengan demikian, yang dimaksud dengan linguistik diakronis adalah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa.  Linguistik diakronis adalah semua yang memiliki ciri evolusi. Ada berbagai contoh untuk melukiskan dualisme intern (sinkronis dan diakronis),

  • Kata Latin “cripus” (berombak, bergelombang, keriting), menimbulkan kata dasar Perancis crép-, yang membentuk kata kerja crépir ‘melepas’, dan décrépir, ‘mengupas lepas. Pada suatu waktu, bahasa Perancis meminjam kata Latin décrepitus, ‘usang/ karena usia’, untuk membentuk décrépit; tetapi ternyata orang melupakan asal kata ini.
  • Kalkulasi: dari kata bahasa Latin Calculus= kerikil atau batu kecil, batu kecil untuk menghitung. Dahulu orang menghitung dengan menggunakan krikil kemudian berkembang menjadi sipoa atau sempoa dan yang paling modern orang menghitung dengan menggunakan kalkulator.  Jadi, kalkulasi, kalkulator dilihat secara diakronis merupakan kata yang latin calculus yang mengalamai evolusi.

Signifie-signifiant

Bahasa adalah alat komunikasi di dalam masyarakat yang menggunakan sistem tanda yang maknanya dipahami  secara konvensional oleh anggota masyaraat bahasa tersebut. Tanda bahasa terdiri atas dua unsur yang tak terpisahkan yaitu unsur citra akustik (bentuk) (signifiant/petanda) dan unsur konsep (signifie)/penanda). Hubungan kedua unsur ini didasari konvensi dalam  kehidupan sosial. Kedua unsur ini terdapat di dalam pikiran atau kognisi pemakai bahasa.

Langue-parole-langage

Langue mengacu pada sistem bahasa yang abstrak. Sistem ini mendasari semua ujaran dari setiap individu.  Parole adalah bahasa tuturan, bahasa sehari-hari yang diujarkan oleh penutur dan memjadi pembeda. Langage mengacu pada bahasa secara unum yang digunakan oleh seseorang untuk benlomunikasi.

Sintakmatik-paradigmatik

Sintakmatik (Horizontal) adalah hubungan yang diperoleh jika satuan-satuan diletakkan bersama dalam satu tindak bicara. Unit-unit kebahasaan dapat digabungkan menjadi bangun yang lebih panjang.

Andi parle francais  [ andi, parle, francais]

Paradigmatik (vertikal) adalah hubungan antarelemen yang dapat saling menggantikan dalam slot yang sama dalam struktur kebahasaan, seperti yang tampak pada matriks dibawah ini.

Aliran Transformasional

Aliran transformasional ini dipelopori oleh Noam Chomsky yang merupakan reaksi dari faham strukturalisme. Konsep strukturalisme yang paling ditentang adalah konsep bahwa bahasa sebagai faktor kebiasaan (habit). Tentang tata bahasa transformasional ini ditulis oleh Chomsky dalam bukunya Syntactic Structure pada tahun 1957, yang kemudian diperkembangkan lagi dalam bukunya yang kedua berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965.  Adapun asumsi yang mendasari pendekatan bahasa secara transformasional ini adalah sebagai berikut:

  1. Bahasa merupakan satu produk kebudayaan hasil kreatif manusia
  2. Bahasa bukan merupakan rekaman tingkah laku luar yang berupa bunyi yang dapat didengar, melainkan merupakan satu proses mentalistik yang kelak kemudian dilahirkan dalam bentuk luar bunyi bahasa yang didengar atau kelak dimanifestasikan dalam bentuk tulis
  3. Bahasa merupakan satu proses produktif, sehingga metode analisis bahasa harus bersifat deduktif
  4. Formalisasi matematis dapat juga dikenakan pada formalisasi sistem produktif bahasa
  5. Analisis bahasa tidak dapat dilepaskan dari hakikat bahasa yang utuh yakni bunyi dan makna.

Competence 

adalah pengetahuan yang dimilki oleh pemakai bahasa mengenai bahasanya. Ia berpendapat bahwa sebenarnya kalimat yang kita dengar dari seorang pembicara bahasa tertentu itu pada umumnya adalah kalimat-kalimat yang baru.

Performance 

merupakan pencerminan dari competence, yang juga dipengaruhi oleh berbagai situasi mental dan lingkungan real seperti keterbatasan ingatan, keteledoran, kecerobohan dan sebagainya.

Ciri-ciri Aliran Transformasional

  1. Berdasarkan Paham Mentalistik. Proses berbahasa bukan sekadar proses rangsang-tanggap semata-mata, akan tetapi justru menonjol sebagai proses kejiwaan.
  2. Bahasa Merupakan Innate (warisan keturunan).
  3. Bahasa terdiri atas lapis dalam dan lapis rermukaan (bentuk dan makna)
  4. Analisis Bahasa Bertolak dari Kalimat
  5. Bahasa Bersifat Kreatif
  6. Membedakan Kalimat Inti dan Kalimat Transformasi