Sejarah Pembelajaran Bahasa Prancis di Indonesia

Hubungan Indonesia dengan Prancis telah berlangsung jauh sebelum era kemerdekaan. Prancis sendiri pernah berada dan memerintah tanah Jawa selama 5 tahun yaitu antar tahun 1806 sampai tahun 1811 yaitu ketika Napoleon Bonaparte yang memenangkan Perang di Eropa dan menduduki Belanda, memerrintahkan Daendeles, seorang Jenderal Belanda, atas namanya memerintah pulau Jawa. Kala saat Kerajaan Belanja diduduki Perancis, Napoleon (tahun 1804 menjadi Kaisar Perancis) menetapkan adiknya, Louis Napoleon,  menjadi raja Belanda dan seluruh jajahan serta pos dagang dari Ghana, Afrika Selatan, India, Sri Lanka-Galle, Malaka, Singapura, hingga Hindia Belanda. Otomatis Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels yang orang Belanda pun bertindak atas nama takhta Perancis (Kompas.com, 2008/08/15). Seperti diketahui, Herman Willem Daendels, seorang pengagum Perancis kala itu dikirim Louis Bonaparte menggantikan Gubernur Jenderal Albertus Wiese mengurusi Jawa. Pada periode ini, perubahan besar baik infrastruktur dan reformasi administrasi turut terjadi. Salah satunya lahirnya Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Ini dilakukan sebagai pertahanan atas gempuran dari invasi Inggris pada tahun 1811 yang akhirnya berhasil dimenangkan kubu Inggris (https://tirto.id/perancis-dan-indonesia-dalam-lintasan-sejarah-cj8Z).

Kebijakan Pendidikan Bahasa Prancis di Indonesia

Di awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1950, pengaruh Prancis sangat terasa di bidang hukum perdata dan ketata negaraan dan di bidang pendidikan. Sistem hukum tersebut banyak mewarnai sistem hukum di Indonesia. Hubungan Indonesia dan Prancis di bidang pendidikan dimulai sejak kurikulum pertama Indonesia dicanangkan yaitu kurikulum 1950. Pada kurikulum itu, bahasa Prancis diajarkan sebagai bahasa asing penting di sekolah menengah A dan sebagai bahasa asing pelengkap di SMA B (50 tahun pendidikan Indonesia, 1995 : 148). Pada kurikulum-kurikulum selanjutnya, pelajaran bahasa Prancis di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi terus berkembang. Antara tahun 1970an sampai tahun 2001, pemerintah Prancis memberikan beasiswa secara besar-besaran kepada para pengajar bahasa Prancis di Indonesia untuk mengikuti pendidikan baik pada program S2 dan S3 atau program pendek (kuliah musim panas). Bahhkan, sejalan dengan booming wisatawan Prancis ke Indonesia antara tahun 1980-aa, kebijakan ini juga diikuti dengan promosi pembelajaran bahasa Prancis dengan pembukaan program studi bahasa Prancis di perguruan tinggi (IKIP) dan sekolah sekolah pariwisata (SMK Pariwisata, Akademi Pariwisata). Hal itu dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga profesional di bidang pariwisata yang akan melayani wisatawan berbahasa Prancis. Sayangnya, sejak pemberlakuan kurikulum 2013, pendidikan bahasa Prancis di Indonesia mengalami perubahan paradigma. Pelajaran bahasa Prancis (dan juga bahasa asing lainnya) tidak lagi menjadi bahasa asing (penting) yang diajarkan, tetapi hanya menjadi pelajaran peminatan (yang pada kebanyakan sekolah memilih mata pelajaran nonbahasa asing sebagaai mata pelajaran peminatan).

Perkembangan pendidikan bahasa Prancis di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga sekarang ini searah dengan perkembangan filsafat pendidikan yang berkembang di Eropa. Pendekatan dan buku-buku pelajaran yang digunakan sesuai dengan perkembangan filsafat saat itu. Pada awal pendidikan bahasa Prancis di Indonesia (1945-1952). Saat itu dikembangkan metode audio-oral. Pemerintah Prancis memberikan banyak beasiswa kepada guru-guru Indonesia untuk belajar di Prancis, dan mengirimkan buku-buku dan sumber belajar berbasis metode audio-oral.

Awalnya pengembangan metode audio-oral berlangsung di Amerika selama Perang Dunia Kedua. Pengembangan metode ini searah dengan perkembangan teori-teori linguistik struktural yang dikembangkan oleh Bloomfield, Harris, dan perkembangan psikologi behaviotris yang dimotori oleh Skinner. Pembelajaran ini digunakan untuk kebutuhan militer AS agar para tentara dapat menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris. Sesuai namanya, metode ini dikenal juga sebagai “metode tentara”. Pembelajaran diarahkan pada praktik lisan bahasa asing dan pengajaran teoritis fonetik, kosakata dan tata bahasa. Beberapa buku pelajaran Cours de langue et de civilisation françaises à l’usage des étrangers, (4 volume) diterbitkan oleh Hachette tahun1953-1957 yang lebih dikenal dengan sebutan buku Mauger Bleu karena disusun oleh Gaston Mauger,buku Le français élémentaire : Méthode progressive de français usuel diterbitkan oleh  Hachette, 1962, dan tahun 1962, CREDIF mengeluarkan buku Voix et images de France yang merupakan pengembangan metode audio-oral menjadi audio visual. Diantara buku-buku itu, buku Mauger Bleu-lah yang paling banyak digunakan di Indonesia, karena pemerintah Prancis mengirimkan dan memberikan buku-buku itu secara gratis kepada sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Prancis.

Setelah perang dunia kedua, bahasa Inggris menjadi bahasa komunikasi internasional. Oleh karena itu, pemerintah Prancis menugaskan Centre de Recherche d’Etude pour la Diffusion du Français (CREDIT) yaitu sebuah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah Prancis yang bertugas untuk mengkaji dan menyebar luaskan bahasa Prancis keseluruh dunia, untuk melakukan-langkah efektif. Pada tahun 1968, diperkenalkan buku Voix et Image de France oleh Didier yang menggunakan metode structuro-globale-audio-visuelle (SGAV) yaitu metode audio visual yang di dalamnya diperkenalkan pembelajaran yang menggabungkan antara gambar dan suara.

Pada tahun 1976, pemerintah Prancis mengirimkan buku La Frence en Directe dan memberikan buku ini kepada perguruan tinggi yang mengajarjan bahasa Prancis (IKIP Yogya, IKIP Bandung, IKIP Jakarta, UI, dan sebagainya).  Buku karangan Guy Capelle dan Janine Capelle yang diterbitkan oleh Hachette ini menjadi buku wajib bagi pengajar (terutama dosen). Buku ini dilengkapi dengan kaset audio, film strip, dan figurine dan papan flanel.

Tahun 1980-an, dengan berkembangnya pendekatan komunikatif, buku-buku pelajaran bahasa Prancis mulai diarahkan sesuai dengan pendekatan komunikatif. Salah satu fitur terpenting pendekatan ini adalah untuk memperhitungkan kebutuhan bahasa peserta didik. Pendekatan komunikatif mengandung empat keterampilan yaitu menyimak (comprehension orale), berbicara (production orale), membaca (comprehension ecrite), dan berbicara (production orale). Bahasa dipahami sebagai alat komunikasi. Untuk membuat Lingkungan komunikasi yang efektif, kebutuhan peserta didik harus diperhitungkan. Menurut prinsip pendekatan komunikatif, peserta didik harus tahu cara menggunakan aturan bahasa kedua atau bahasa asing. Buku-buku seperti Tempo (1997) merupakan buku berbasis pendekatan komunikatif yang pernah digunakan di Indonesia, terutama di perguruan tinggi.