Belajar Bahasa Asing Perlu Kompetensi Antar Budaya

Budaya asing telah kita kenal  sejak lama, utamanya budaya yang dibawah
oleh kaum kolonialisme. Namun tidak dapat  dipungkiri dengan masuknya budaya asing  tersebut, sebagai awal kebangkitan bangsa  ini, khususnya dalam bidang pendidikan,  sosial, budaya dan ekonomi. Salah satu  aspek budaya yang masuk ke Indonesia  adalah bahasa. Bahasa- bahasa Eropah mulai  dikenal dan dipelajari di tanah air. Hal ini  menjadi awal adanya kontak budaya melalui bahasa. Bahasa-bahasa Eropah menjadi  begitu penting sebagai alat bantu dalam  menunjukkan kepribadian bangsa Indonesia  dimata dunia (Suhaeb 2010 :14)

Fenomena kontak bahasa yang berdampak pada kontak budaya, pergeseran bahasa dan geger budaya merupakan tantangan nyata di antara banyak tantangan lainnya. Untuk itu, diperlukan kompetensi lintas budaya (crosscultural competence) sehingga seseorang dapat mempertahankan bahasa dan budaya aslinya dan pada waktu yang bersamaan dapat berinteraksi dengan bahasa dan budaya lain (Dedi Irwansyah, 2013 :3).

Budaya dapat didefinisikan sebagai jumlah cara hidup, termasuk perilaku yang diharapkan, kepercayaan, nilai-nilai, bahasa dan praktik hidup yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat. Sementara itu, kompetensi antarbudaya dapat  dimaknai sebagai kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditargetkan yang mengarah pada perilaku dan komunikasi yang terlihat yang efektif dan sesuai dalam interaksi antar budaya.

Kompetensi interkultural merupakan kompetensi yang dimiliki oleh seseorang untuk berinteraksi dengan orang yang berasal dari kultur lain dengan berpegang pada kemampuan untuk menghargai budaya sendiri (the self) serta empati terhadap budaya asing (the other). Iman Santoso (2014 : 9) mengutip pendapat Weimann dan Hosch mengatakan bahwa tujuan global dari komunikasi interkultural adalah untuk memberikan kontribusi dalam pemahaman antar bangsa. Dengan demikian pengajar bahasa asing harus mampu mengantarkan peserta didiknya untuk dapat memahami budaya asing yang terepresentasikan dalam bahasanya dengan berpegang pada pemahaman atas budaya sendiri.

 Seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya, pendidikan global mensyaratkan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai global. Salah satu nilai global tersebut adalah budaya. Kompetensi antar budaya merupakan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik agar mereka dapat menjadi manusia yang mampu hidup di era global. Kompetensi antar budaya yang perlu dikuasai oleh pembelajar dapat dikelompokkan atas tiga hal yaitu (1) pengetahuan, (2) keterampilan,dan (3) sikap seperti pada gambar berikut (Sabine, 2018 :2)

Pertama, kompetensi yang terkait dengan pengetahuan (knowledge). Kompetensi yang perlu dikuasai peserta didik adalah (1) kesadaran akan budaya sendiri (cultural self-awareness) yang mengartikulasikan bagaimana budaya seseorang telah membentuk identitas dan pandangan dunia seseorang, (2) Pengetahuan budaya khusus, yaitu menganalisis dan menjelaskan informasi dasar tentang budaya orang laina tau bangsa lain (sejarah, nilai, politik, ekonomi, gaya komunikasi, nilai, kepercayaan, dan praktik), (3) kesadaran sosiolinguistik (sociolinguistic awareness), yaitu memperoleh pengetahuan dan keterampilan akan bahasa lokal, mengartikulasikan perbedaan komunikasi verbal /non-verbal, dan dapat menyesuaikan tindak tutur seseorang agar dapat mengakomodasi budaya lain, (4) pahami isu dan tren global (grasp of global issues and trends), yaitu peserta didik mampu menjelaskan makna dan implikasi globalisasi dan mengaitkan masalah lokal dengan kekuatan global (Sabine, 2018 :1).

Kedua, kompetensi terkait keterampilan (skills). Menurut Sabine (2018 :2) keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik adalah (1) keterampilan untuk mendengarkan, mengamati, mengevaluasi, yaitu dengan menggunakan kesabaran dan ketekunan untuk mengidentifikasi dan meminimalkan etnosentrisme, mencari petunjuk budaya dan maknanya, (2) menganalisis, menafsirkan dan menghubungkan, yaitu mencari hubungan, hubungan sebab akibat dengan menggunakan teknik analisis komparatif, (3) berpikir kritis, yaitu melihat dan menafsirkan dunia dari sudut pandang budaya lain dan mengidentifikasi budaya sendiri.

Ketiga, kompetensi sikap (attitudes). Menurut (Sabine, 2018 :1), sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik meliputi (1) saling menghormati, yaitu mencari atribut budaya lain; nilai keanekaragaman budaya berpikir secara komparatif dan tanpa prasangka tentang perbedaan budaya, (2) Sikap terbuka, yaitu menghindari kritik terhadap budaya lain; berupaya untuk mengumpulkan ‘bukti’ perbedaan budaya, dan membuang praduga-praduga yang salah, (3) Rasa ingin tahu, yaitu interaksi antarbudaya, melihat perbedaan sebagai kesempatan belajar, menyadari ketidaktahuan sendiri, (4) Penemuan (discovery) yaitu mentoleransi ambiguitas dan melihatnya sebagai pengalaman positif; kesediaan untuk bergerak di luar zona kenyamanan seseorang